Selasa, 17 Oktober 2017

TUGAS 2 KOMUNIKASI PERSUASIF (ANALISI IKLAN MASYARAKAT "STOP BULLYING"


Iklan tersebut menggambarkan mengenai seorang pelajar  yang mengalami bullying oleh teman sekolahnya. Kemudian anak tersebut mengalami depresi yang mengakibatkan ketakutan, stres, dll yang mengakibatkan anak tersebut dapat melukai diri sendiri dan dapat menimbulkan kasus bunuh diri karena hal tersebut (Bullying). Apabila bullying terus terjadi di dunia pendidikan khususnya,akan ada sanksi tegas menurut Undang – Undang Perlindungan anak No.23 tahun 2002 pasal 54 menyatakan bahwa “ Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib di lindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah, teman – teman sekolah didalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.”

Iklan layanan masyarakat tersebut termasuk kedalam komunikasi persuasif dimana mengajak setiap para pelajar, orang tua, masyarakat luas yang lain untuk selalu menjaga teman – teman mereka satu sama lain maupun keluarga atau anak mereka sendiri ( Orang Tua) untuk melakukan aksi “Stop Bullying”. Dalam komunikasi persuasif terdapat sikap kognitif ataupun afektif. Dimana definisi dari sikap kognitif itu sendiri adalah perilaku di mana individu mencapai tingkat tahu pada objek yang diperkenalkan dan sikap afektif adalah perilaku dimana individu memiliki kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek.

Dari segi perilaku Kognitif, masih banyak nya aksi bullying terhadap anak anak ataupun pelajar yang dahulu memiliki kesalahan ataupun kekurangan dalam hidup mereka. Sehingga timbul masalah baru yang menghasilakn bullying itu terjadi. Dimana jika bullying itu sendiri tidak dihindarkan atau di ciptakan diri sendiri maupun orang lain, maka akan banyak memakan korban bullying yang akan berpengaruh negatif terhadap kehidupan korban tersebut. Ada pihak yang sangat dirugikan dalam hal ini, keluarga korban dan korban bullying sendiri. Maka dari itu dibutuhkan suatu hal untuk mengingatkan agar masyarakat sadar untuk “Stop Bullying”.

Dari segi perilaku Afektif, saya sangat berapresiasi dan sangat mendukung akan adanya aksi “Stop Bullying”. Terdapat alasan mengapa saya sangat mendukung dan sangat berapreasi terhadap gerakan ini.

1.      Dengan adanya iklan layanan masyarakat ini, masyarakat haruslah menyadari berapa menderitanya korban Bullying yang seharusnya mereka memiliki kehidupan yang layak dan memiliki waktu untuk bersosialisasi untuk menjalin silaturahmi dengan orang lain.

2.      Manusia adalah ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, dimana kita sebagai ciptaan ALLAH SWT harus memiliki hati yang baik dan harus saling membantu satu sama lain dan saling menyayangi agar terjauhi dari sifat buruk dan di benci oleh orang lain.

3.      Masyarakat harus sadar, bahwa tidak ada sama sekali orang yang ingin menjadi korban bullying, dan semua manusia pastinya ingin memiliki kehidupan normal seperti manusia pada khalayaknya.

Maka dari itu harus saling menghormati satu sama lain, satu jiwa dan satu bermartabat untuk menjunjung tinggi harga diri manusia, di mata manusia, maupun dimata ALLAH SWT.

Pihak-pihak yang terlibat dalam perilaku bullying Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam perilaku bullying dapat dibagi menjadi 4 yaitu:

a.       Bullies (pelaku bullying)
yaitu murid yang secara fisik dan/atau emosional melukai murid lain secara berulang-ulang (Olweus, dalam Moutappa dkk, 2004). Remaja yang diidentifikasi sebagai pelaku bullying sering memperlihatkan fungsi psikososial yang lebih buruk daripada korban bullying dan murid yang tidak terlibat dalam perilaku bullying (Haynie, dkk., dalam Totura, 2003). Pelaku bullying juga cenderung memperlihatkan simptom depresi yang lebih tinggi daripada murid yang tidak terlibat dalam perilaku bullying dan simptom depresi yang lebih rendah daripada victim atau korban (Haynie, dkk., dalam Totura, 2003).
b.      Victim (korban bullying) yaitu murid yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya (Olweus, dalam Moutappa dkk, 2004). Menurut Byrne dibandingkan dengan teman sebayanya yang tidak menjadi korban, korban bullying cenderung menarik diri, depresi, cemas dan takut akan situasi baru (dalam Haynie dkk, 2001)
c.       Bully-victim yaitu pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tetapi juga menjadi korban perilaku agresif (Andreou, dalam Moutappa dkk, 2004). Craig (dalam Haynie dkk, 2001) mengemukakan bully-victim menunjukkan level agresivitas verbal dan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lain. Bully victim juga dilaporkan mengalami peningkatan simptom depresi, merasa sepi, dan cenderung merasa sedih dan moody daripada murid lain (Austin & Joseph; Nansel dkk, dalam Totura, 2003)
d.      Neutral yaitu pihak yang tidak terlibat dalam perilaku agresif atau bullying.

Bentuk – bentuk Bullying, yaitu:
1.      Verbal bullying
Verbal bullying dapat berupa teriakan dan keriuhan yang terdengar. Hal ini berlangsung cepat dan tanpa rasa sakit pada pelaku bullying dan dapat sangat menyakitkan pada target.
2.      Physical bullying
Bentuk bullying yang paling dapat terlihat dan paling mudah untuk diidentifikasi adalah bullying secara fisik. Bentuk ini meliputi menampar, memukul, mencekik, mencolek, meninju, menendang, menggigit, menggores, memelintir, meludahi, merusak pakaian atau barang dari korban.
3.      Relational bullying
Bentuk ini adalah yang paling sulit untuk dideteksi, relational bullying adalah pengurangan perasaan „sense‟ diri seseorang yang sistematis melalui pengabaian, pengisolasian, pengeluaran, penghindaran. Penghindaran, sebagai suatu perilaku penghilangan, dilakukan bersama romur adalah sebuah cara yang paling kuat dalam melakukan bullying. Relational bullying paling sering terjadi pada tahun-tahun pertengahan, dengan onset remaja yang disertai dengan perubahan fisik, mental, emosional, dan seksual. Pada waktu inilah, remaja sering menggambarkan siapa diri mereka dan mencoba menyesuaikan diri dengan teman sebaya.



SUMBER:


Minggu, 01 Oktober 2017

TUGAS INDIVIDU

KOMUNIKASI BISNIS

Disusun Oleh:

Nama          : Afkar Jelang Ramadhan       (10214405)
                     
Jurusan       : Manajemen

Kelas          : 4EA26







Universitas Gunadarma
Fakultas Ekonomi
         2017














BENTUK KOMUNIKASI
Pada dasarnya terdapat dua bentuk komunikasi yang umum yang digunakan dalam dunia bisnis, iyalah:
1.      Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal (verbal communication) iyalah salah satu bentuk komunikasi yang dapat disampaikan kepada pihak lain dengan  melalui tulisan (written) serta lisan (oral). Komunikasi verbal memilki tipe yang dibedakan menjadi dua iyalah :

Berdasarkan aktif atau pasifnya peserta komunikasi dalam proses suatu komunikasi. Dimana komunikasi verbal dapat bertindak sebagai komunikator ataupun pengirim pesan serta dapat bertindak sebagai audience.

Dalam berkomunikasi secara verbal, juga dibutuhkan pengungkapan kata-kata yang disusun dalam suatu pola yang berarti sangat baik dalam bentuk tulisan ataupun lisan, seperti :
1.Berbicara serta Menulis

Suatu pesan yang sangat penting serta kompleks, baiknya disampaikan dengan menggunakan tulisan, seperti surat, memo serta laporan

2.Mendengarkan serta Membaca

Untuk mencapai komunikasi yang efektif dan baik, maka diperlukan komunikasi dua arah, dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya harus memerlukan keterampilan mendengar (listening) serta membaca (reading).

2.      Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal iyalah bentuk komunikasi yang sangat mendasar dalam hal komunikasi bisnis. Walaupun pada dasarnya komunikasi nonverbal ini memiliki sifat  yang kurang terstruktur sehingga sulit untuk dipelajari,
contoh  seperti memahami dalam penggunaan bahasa isyarat , ekspresi wajah ,  gerakan tubuh, sandi, simbol-simbol, warna serta intonasi suara. Dalam penyampaiannya juga, komunikasi verbal serta komunikasi nonverbal memilki arti yang berbeda-beda, seperti dalamhal  komunikasi nonverbal,  pesan yang akan disampaikan biasanya hanya dilakukan secara spontan atau tanpa memiliki rencana serta dilakukan secara tidak sadar serta bersifat alami.

Adapun Komunikasi Nonverbal memilki beberapa tujuan , yaitu:
  1. Menyediakan serta memberikan informasi
  2. Mangatur alur suatu percakapan
  3. Mengekspresikan sebuah emosi
  4. Memberi sifat serta melengkapi, menentang ataupun mengembangkan pesan-pesan verbal
  5. Mengendalikan ataupun mempengaruhi orang lain
  6. Mempermudah tugas-tugas yang khusus, misalnya dalam memberikan pengajaran pada saat kuliah, Terkaadang dalam prakteknya, didalam suatu komunikasi bisnis akan terjadi penggabungan antara komunikasi verbal serta komunikasi nonverbal dalam suatu situasi ,  dikarena biasanya kata-kata yang disampaikan dalam suatu komunikasi ataupun percakapan kadang hanya membawa sebagian saja dari pesan.
  7. Relevansinya dalam komunikasi bisnis, tipe komunikasi nonverbal juga dapat menentukan kredibilitas serta kepemimpinan seseorang, yang didapat secara dilihat dari karateristik suara, penampilan, sentuhan, gerakan serta posisi tubuh juga melalui ekspresi wajah serta mata.


Referensi:



TULISAN 1 KOMUNIKASI BISNIS

TUGAS INDIVIDU

KOMUNIKASI BISNIS

Disusun Oleh:

Nama          : Afkar Jelang Ramadhan       (10214405)
                     
Jurusan       : Manajemen

Kelas          : 4EA26







Universitas Gunadarma
Fakultas Ekonomi
         2017














KOMUNIKASI BISNIS

Definisi Komunikasi Bisnis

            Komunikasi bisnis iyalah pertukaran gagasan , pendapat , informasi serta instruksi yang memiliki tujuan tertentu yang dapat disajikan secara personal atau impersonal  dengan melalui simbol – simbol atau sinyal.

            Dalam komunikasi bisnis terdapat enam unsur pokok, yaitu:
  1. Memiliki tujuan yang berarti komunikasi bisnis juga harus memiliki tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sejalan dengan suatu tujuan organisasi.
  2. Pertukaran iyalah dalam hal  melibatkan paling tidak dua orang atau bahkan lebih yakni komunikator serta komunikan.
  3. Gagasan, opini, informasi, instruksi iyalah isi dari pesan yang bentuknya beragam tergantung dari tujuannya, situasi, serta kondisinya.
  4. Menggunakan saluran personal ataupun impersonal  iyalah yang mungkin bersifat tatap muka, menggunakan media ataupun melalui media yang menjangkau jutaan orang secara bersama-sama.
  5. Meggunakan simbol ataupun sinyal iyalah alat atau metode yang dapat dimengerti atau[un dipahami oleh penerima untuk menyampaikan suatu pesan.
  6. Pencapaian tujuan organisasi iyalah salah satu karakteristik yang dapat membedakan organisasi ataupun lembaga formal dari informasi iyalah adanya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh manajemen.
UNSUR-UNSUR DALAM BERKOMUNIKASI
Komunikasi meliputi 5 unsur, yang dikenal dengan formula 5 W + 1 H, yaitu:
  • Komunikator = who [communicator, source, sender]
  • Pesan = says what [message]
  • Media = in which channel [channel, media]
  • Komunikan = to whom [communicant, communicatee, reciever, recipient]
  • Efek [effect, impact, influence]
Hal yang pertama dilakukan iyalah untukmemahami bentuk dasar komunikasi. Karena seorang komunikator yang baik iyalah  harus memiliki beberapa alat komunikasi yang akan menunjang dalam menyampaikan suatu pesan. Seperti bagaimana cara menempatkan kata dalam suatu komunikasi sehingga memiliki arti yang baik serta bisa menarik minat dan simpati dari pendengarnya serta dapat mengajak peserta untuk ikut aktif dalam berkomunikasi seperti dalam kegiatan diskusi.
TEKNIK KOMUNIKASI
  1. Komunikasi informatif [informative communication]
  2. Komunikasi persuasif [persuasive communication]
  3. Komunikasi instruktif atau koersif [instructive/ coersive communication]
  4. Hubungan manusiawi [human relation]

TUJUAN KOMUNIKASI
  1. Perubahan sikap [attitude change]
  2. Perubahan pendapat [opinion change]
  3. Perubahan perilaku [behaviour change]
  4. Perubahan sosial [social change]

KOMUNIKASi FORMAL DAN INFORMAL
Komunikasi Formal dan Informal Komunikasi formal dan informal sebagai suatu sinergi dikemukakan oleh Effendy (2005) bahwa sistem komunikasi formal biasanya mengikuti garis-garis wewenang sebagaimana dituangkan dalam struktur organisasi (organigram). Sedangkan sistem informal (tidak formal) adanya hubungan-hubungan sosial yang dapat memiliki kekuatan untuk menentukan wewenang yang ditransmisikan melalui sistem formal tersebut dapat diterima. Sehingga sangat penting posisi wewenang di dalam sistem formal maupun informal.

Pertama, Komunikasi formal. Komunikasi formal, menurut Mulyana (2005) adalah komunikasi menurut struktur organisasi seperti komunikasi ke bawah dan komunikasi ke atas, dan komunikasi horisontal. Kemudian menurut Blake dan Haroldsen (2005) ciri komunikasi organisasi dan saluran formal banyak persamaan. Ciri saluran komunikasi formal menurut Shibutani dalam Blake dan Haroldsen (2005) yaitu:

1.      Saluran komunikasi berfungsi dengan standar bagi semua laporan yang datang dari berbagai sumber agar dapat diperiksa kebenarannya.

2.      Sumber pesan dapat dikenali dan tentunya dapat dipercaya. Sehingga dapat dijelaskan saluran komunikasi formal bercirikan aturanaturan yang stabil, pekerjaannya, aturan, dan sanksi disusun dengan jelas, serta dapat diikuti oleh orang-orang yang berbeda. Peserta dapat dikenali dan dapat dipercaya serta bertanggung jawab serta ada jalur komunikasi yang akurat.

Kedua, Komunikasi informal. Menurut Mulyana (2005) komunikasi informal tidak tergantung pada struktur organisasi. Kemudian DeVito (2011) komunikasi informal sebagai komunikasi yang disetujui secara sosial yang orientasinya tidak pada organisasi tetapi lebih secara individual.     

Kesimpulan:
Didalam suatu organisasi, kelompok, atau individu antar individu dalam dunia bisnis harus memiliki hubungan komunikasi yang baik dalam hal unsur – unsur dalam berkomunikasi, disertai beberapa teknik dalam berkomunikasi dan disetiap komunikasi yang tercipta, memiliki tujuan komunikasi. Disetiap komunikasi memiliki nilai tersendiri dalam dunia bisnis, diharapkan memiliki tujuan yang jelas dalam dunia bisnis yang dijalankan





Referensi:


Sulaiman, Adhi Iman. 2013. “Model Komunikasi Formal Dan Informal Dalam Proses Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat”. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 16 No. 2, Desember 2013: 173-188.